Sunday, January 3, 2016

Mengenal Indonesia

Terbentuknya Kepulauan Indonesia


Bumi kita yang terhampar luas ini diciptakan Tuhan Yang
Maha Pencipta untuk kehidupan dan kepentingan hidup manusia.

Di bumi ini hidup berbagai flora dan fauna serta tempat bersemainya
manusia dengan keturunannya.

Di bumi ini kita bisa menyaksikan keindahan alam, kita bisa beraktivitas dan berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup kita. Namun harus dipahami bahwa bumi kita juga
sering menimbulkan bencana.

Sebagai contoh munculnya aktivitas
lempeng bumi yang kemudian melahirkan gempa bumi baik tektonis
maupun vulkanis, bahkan sampai menimbulkan tsunami.

Sebagai contoh tentu kamu masih ingat bagaimana gempa dan tsunami yang
terjadi di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, di Papua dan beberapa
di daerah lain, termasuk beberapa gunung berapi meletus.

Bencana tersebut telah mengakibatkan ribuan nyawa hilang dan harta benda
melayang.

Fenomena alam yang terjadi itu merupakan bagian tak
terpisahkan dari aktivitas panjang bumi kita sejak proses terjadinya
alam semesta ratusan bahkan ribuan juta tahun yang lalu.

Proses tersebut secara geologis mengalami beberapa tahapan atau
pembabakan waktu. Berikut ini kita mencoba menelaah tentang
pembabakan waktu alam secara geologis dan bagaimana Kepulauan
Indonesia terbentuk.

Ada banyak teori dan penjelasan tentang penciptaan bumi,
mulai dari mitos sampai kepada penjelasan agama dan ilmu
pengetahuan. Kali ini kamu belajar sejarah sebagai cabang keilmuan,
pembahasannya adalah pendekatan ilmu pengetahuan, yakni
asumsi-asumsi ilmiah, yang kiranya juga tidak perlu bertentangan
dengan ajaran agama. Salah satu di antara teori ilmiah tentang
terbentuknya bumi adalah Teori “Dentuman Besar” (Big Bang),
seperti dikemukaan oleh sejumlah ilmuwan, seperti ilmuwan
besar Inggris, Stephen Hawking.

Teori ini menyatakan bahwa alam
semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh
ruang jagad raya. Jika digunakan teleskop besar Mount Wilson
untuk mengamatinya akan terlihat ruang jagad raya itu luasnya
mencapai radius 500.000.000 tahun cahaya.

Gumpalan gas itu
suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat.
Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta mulai berdesakan
satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat
tinggi, sehingga hanya tersisa energi berupa proton, neutron dan
elektron, yang bertebaran ke seluruh arah.

Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelembung-gelembung
alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh
penjuru, sehingga membentuk galaksi, bintang-bintang, matahari,
planet-planet, bumi, bulan dan meteorit.

Bumi kita hanyalah salah
satu titik kecil saja di antara tata surya yang mengisi jagad semesta.
Di samping itu banyak planet lain termasuk bintang-bintang yang
menghiasi langit yang tak terhitung jumlahnya.

Boleh jadi ukurannya
jauh lebih besar dari planet bumi. Bintang-bintang berkumpul dalam
suatu gugusan, meskipun antarbintang berjauhan letaknya di
angkasa. Ada juga ilmuwan astronomi yang mengibaratkan galaksi
bintang-bintang itu tak ubahnya seperti sekumpulan anak ayam,
yang tak mungkin dipisahkan dari induknya. Jadi di mana ada anak
ayam di situ pasti ada induknya. Seperti halnya dengan anak-anak
ayam, bintang-bintang di angkasa tak mungkin gemerlap sendirian
tanpa disandingi dengan bintang lainnya. Sistem alam semesta
dengan semua benda langit sudah tersusun secara menakjubkan
dan masing-masing beredar secara teratur dan rapi pada sumbunya
masing-masing.

Selanjutnya proses evolusi alam semesta itu memakan waktu
kosmologis yang sangat lama sampai berjuta tahun. Terjadinya
evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang
sangat panjang. Ilmu paleontologi membaginya dalam enam tahap
waktu geologis. Masing-masing ditandai oleh peristiwa alam yang
menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua, dan makhluk
hidup yang paling sederhana. Sedangkan proses evolusi bumi dibagi
menjadi beberapa periode sebagai berikut.

1. Azoikum (Yunani: a = tidak; zoon = hewan), yaitu zaman
sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk
dengan suhu yang relatif tinggi. Waktunya lebih dari satu
miliar tahun lalu.

2. Palaezoikum, yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah
meninggalkan fosil flora dan fauna. Berlangsung kira-kira
350.000.000 tahun.

3. Mesozoikum, yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan
mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung dan tumbuhan
berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun.

4. Neozoikum, yaitu zaman purba baru, yang dimulai sejak
60.000.000 tahun yang lalu.

Zaman ini dapat dibagi lagi menjadi dua tahap (Tersier dan Quarter). Zaman es mulai
menyusut dan makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia
mulai hidup.

Merujuk pada tarikh bumi di atas, sejarah di Kepulauan
Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang dan rumit.
Sebelum bumi didiami manusia, kepulauan ini hanya diisi tumbuhan
flora dan fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Alam
juga harus menjalani evolusi terus-menerus untuk menemukan
keseimbangan agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan
kondisi alam dan iklim, sehingga makhluk hidup dapat bertahan
dan berkembang biak mengikuti seleksi

Gugusan kepulauan ataupun wilayah maritim seperti yang
kita temukan sekarang ini terletak di antara dua benua dan dua
samudra, antara Benua Asia di utara dan Australia di selatan, antara
Samudra Hindia di barat dan Samudra Pasifik di belahan timur.
Faktor letak ini memainkan peran strategis sejak zaman kuno sampai
sekarang. Namun sebelum itu marilah kita sebentar berkenalan
dengan kondisi alamnya, terutama unsur-unsur geologi atau unsurunsur
geodinamika yang sangat berperan dalam pembentukan
Kepulauan Indonesia.

Menurut para ahli bumi, posisi pulau-pulau di Kepulauan
Indonesia terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma
dalam perut bumi. Inti perut bumi tersebut berupa lava cair bersuhu
sangat tinggi. Makin ke dalam tekanan dan suhunya semakin tinggi.
Pada suhu yang tinggi itu material-material akan meleleh sehingga
material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu

tinggi ini terus-menerus bergejolak
mempertahankan cairan sejak
jutaan tahun lalu. Ketika ada celah
lubang keluar, cairan tersebut keluar
berbentuk lava cair. Ketika lava
mencapai permukaan bumi, suhu
menjadi lebih dingin dari ribuan
derajat menjadi hanya bersuhu
normal sekitar 30 derajat. Pada
suhu ini cairan lava akan membeku
membentuk batuan beku atau kerak.

Keberadaan kerak benua (daratan)
dan kerak samudra selalu bergerak
secara dinamis akibat tekanan
magma dari perut bumi. Pergerakan
unsur-unsur geodinamika ini dikenal
sebagai kegiatan tektonis.

Sebagian wilayah Kepulauan
Indonesia merupakan titik temu di
antara tiga lempeng, yaitu Lempeng
Indo-Australia di selatan, Lempeng
Eurasia di utara dan Lempeng Pasifik
di timur. Pergerakan lempenglempeng
tersebut dapat berupa
subduksi (pergerakan lempeng ke
atas), obduksi (pergerakan lempeng ke bawah) dan kolisi (tumbukan
lempeng).

Pergerakan lain dapat berupa pemisahan atau divergensi
(tabrakan) lempeng-lempeng.

Pergerakan mendatar berupa
pergeseran lempeng-lempeng tersebut masih terus berlangsung
hingga sekarang.

Perbenturan lempeng-lempeng tersebut
menimbulkan dampak yang berbeda-beda. Namun semuanya
telah menyebabkan wilayah Kepulauan Indonesia secara tektonis
merupakan wilayah yang sangat aktif dan labil hingga rawan gempa
sepanjang waktu.

Pada masa Paleozoikum (masa kehidupan tertua) keadaan
geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini.
Di kala itu wilayah ini masih merupakan bagian dari samudra yang
sangat luas, meliputi hampir seluruh bumi. Pada fase berikutnya,
yaitu pada akhir masa Mesozoikum, sekitar 65 juta tahun lalu,
kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempenglempeng
Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Kegiatan ini dikenal
sebagai fase tektonis (orogenesa larami), sehingga menyebabkan
daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau yang
terpisah satu dengan lainnya. Sebagian di antaranya bergerak ke
selatan membentuk pulau-pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan
Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia. Sebagian
pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau Timor,
Kepulauan Nusa Tenggara Timur dan sebagian Maluku Tenggara.
Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut
telah mengakibatkan wilayah pertemuan keduanya sangat labil.
Kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk
rangkaian Kepulauan Indonesia pada masa Tersier sekitar 65 juta
tahun lalu.

Sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan dan Jawa telah
tenggelam menjadi laut dangkal sebagai akibat terjadinya proses

kenaikan permukaan laut atau transgresi. Sulawesi pada masa itu
sudah mulai terbentuk, sementara Papua sudah mulai bergeser
ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut
dangkal berupa paparan dengan terbentuknya endapan batu
gamping. Pada kala Pliosen sekitar lima juta tahun lalu, terjadi
pergerakan tektonis yang sangat kuat, yang mengakibatkan
terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan
vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya (atau mungkin
lebih tepat terbentuk) rangkaian perbukitan struktural seperti
perbukitan besar (gunung), dan perbukitan lipatan serta rangkaian
gunung api aktif sepanjang gugusan perbukitan itu. Kegiatan

indonesia dalam arus sejarah

tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa Pleistosen, yang
dikenal sebagai kegiatan tektonis Plio-Pleistosen. Kegiatan tektonis
ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia.

Gunung api aktif dan rangkaian perbukitan struktural tersebar
di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke sepanjang
Pulau Jawa ke arah timur hingga Kepulauan Nusa Tenggara serta
Kepulauan Banda. Kemudian terus membentang sepanjang Sulawesi
Selatan dan Sulawesi Utara. Pembentukan daratan yang semakin
luas itu telah membentuk Kepulauan Indonesia pada kedudukan
pulau-pulau seperti sekarang ini. Hal itu telah berlangsung sejak kala
Pliosen hingga awal Pleistosen (1,8 juta tahun lalu). Jadi pulau-pulau
di kawasan Kepulauan Indonesia ini masih terus bergerak secara
dinamis, sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa, baik
vulkanis maupun tektonis.

Letak Kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung
api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman
flora dan fauna yang sangat tinggi. Kekayaan alam dan kondisi
geografis ini telah mendorong lahirnya penelitian dari bangsabangsa
lain. Dari sekian banyak penelitian terhadap flora dan fauna
tersebut yang paling terkenal di antaranya adalah penelitian Alfred
Russel Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang
berbeda berdasarkan ciri khusus baik fauna maupun floranya.
Pembagian itu adalah Paparan Sahul di sebelah timur, Paparan
Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut kemudian
dikenal sebagai wilayah Wallacea yang merupakan pembatas fauna
yang membentang dari Selat Lombok hingga
Selat Makassar ke arah utara. Fauna-fauna
yang berada di sebelah barat garis pembatas itu
disebut dengan Indo-Malayan region. Di sebelah
timur disebut dengan Australia Malayan region.
Garis itulah yang kemudian kita kenal dengan
Garis Wallacea.

Untuk memperkaya
pengetahuan tentang hal ini,
kamu bisa membaca Alfred
Russel Wallace. Kepulauan
Nusantara.

Merujuk pada tarikh bumi di atas, keberadaan manusia di
muka bumi dimulai pada zaman Quater sekitar 600.000 tahun lalu
atau disebut juga zaman es. Dinamakan zaman es karena selama itu
es dari kutub berkali-kali meluas sampai menutupi sebagian besar
permukaan bumi dari Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara
Peristiwa itu terjadi karena panas bumi tidak tetap, adakalanya naik
dan adakalanya turun. Jika ukuran panas bumi turun dratis maka
es akan mencapai luas yang sebesar-besarnya dan air laut akan
turun atau disebut zaman Glacial. Sebaliknya jika ukuran panas
naik, maka es akan mencair, dan permukaan air laut akan naik yang
disebut zaman Interglacial. Zaman Glacial dan zaman Interglacial ini
berlangsung silih berganti selama zaman Diluvium (Pleistosen). Hal
ini menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia, yang
kemudian mempengaruhi keadaan bumi serta kehidupan yang ada
diatasnya termasuk manusia, sedangkan zaman Alluvium (Holosen)
berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang ini.
 peta geografi kepulauan indonesia